Minggu, 29 Maret 2009

MY HEART


Kali ini coba kutanyakan lagi pada hati yang tengah memilih. "Siapakah gerangan yang hendak kau pilih?" Namun lagi-lagi hati ini tak mampu menjawab. Entah sudah berapa jilid jika harus kurangkai dalam sebuah buku. Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut perasaan jiwa ini seolah-olah hanyalah hembusan angin yang berlalu begitu saja. Sampai kapan, hati ini masih saja terdiam..akankah tetap saja terdiam?

Bunga-bunga itu nampak berseri dan keindahannyapun terpancar dari dalam hati. Sebuah aura kasih yang mampu menggetarkan hati yang sedari saat itu berdiam diri. Lalu kutanyakan kembali pada hati ini. " Ia kah gerangan yang kau pilih?"Entah mengapa pertanyaanku membuat hati ini kembali tertutup rapat. "Lalu siapa?!" Tanyaku sedikit kesal.

Kemudian hati ini memberikan satu isyarat seraya memutar pandanganku kembali kebelakang. Seketika itu pula kulihat dirinya. " Apa? Dia? Kenapa harus dia? Tidakkah ada yang lain yang kau pilih?" Kembali tanyaku. Hati inipun tersenyum lagi. Tak kulihat lagi guratan kepedihan dihatinya. " Tapi itu tidak mungkin. Dia sudah menjai milik orang lain." Hati ini kembali tertunduk lesu. " Memang tidak mudah untuk melupakannya, tapi kenapa tidak kau coba dengan sekuat tenagamu? Mengapa kau terlalu lemah? Mengapa hanya dia yang kau cintai? Tidakkah kau bisa membuka matamu untuk melihat yang ada disekelilingmu? Dia, dia, dia,dia terus yang kau pikirkan. Kamu memang tidak pernah realistis! Kamu memang tidak pernah berpikir secara logis! Kamu egois...!" Umpatku pada hati ini yang sudah terlanjur kuat mencintainya. Hati yang sudah begitu sangat menguasai diri ini hingga tak lagi mampu mencapai logika.

Apa yang bisa kulakukan jika hati ini tetap dalam pendiriannya? Mencintai seorang seumur hidup? Inikah jalan yang harus kutempuh? Adilkah jika aku harus mencintai orang lain tanpa menyerahkan hati ini? 

Sekali lagi kucoba kembali bertanya pada hati ini. " Apakah kau benar-benar sudah tidak memiliki kekuatan untuk melupakannya? Apakah kau benar-benar tidak akan mau kuserahkan pada cinta yang lain?" Hati inipun tetap terdiam dan kulihat ada airmata yang meleleh dipipinya.

Arya Van Java

Tidak ada komentar:

Posting Komentar