Jumat, 17 April 2009

CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI

Hati tak dapat lagi berharap banyak tentang cinta yang telah terampas oleh keadaan. Asa yang dulu masih terbentang begitu luasnya, kini menjadi teramat sempit untuk aku lewati. 

Logikaku meyakinkan hati ini bahwa cinta tidak harus memiliki. Dan hati inipun telah mau diajak kompromi dengan baik. Menerima apa yang telah menjadi ketentuan-Nya, dan menjalankannya dengan penuh keikhlasan.

Setelah terhenti pada satu titik, kini aku kembali melanjutkan perjalanan. Mencoba menghidupkan kembali perasaan ini setelah sekian lama mati suri.

Kasih pertama yang dulu hilang kini datang menjelang.

Cinta lama bersemi kembali dan dengan kekutannya aku kembali berdiri. 

Kini aku tak lagi sendiri

Rabu, 15 April 2009

BIASA SAJA

Mencoba mencintai  meski rasa sudah mati.

Mencoba memahami meski hati tak bisa mengerti.

Mencoba pasrah meski jiwa tak bisa menerima.

    Langkahku terasa begitu ringan.

    Jalanku tanpa beban.

    Jika memberi dan menerima tanpa berlebihan.

        Mencintai sederhana saja

        Dicintai sederhana saja

        Jika harus kehilanganpun,

        terasa biasa saja.

DIANTARA DUA TEPI

Aku berdiri diantara dua tepian. Hatikku telah dipaksa untuk memilih. Ketepi sebelah mana aku harus merapat?

Jiwa ini masih terlalu malas untuk berfikir dan mencari petunjuk-petunjuk yang bijaksana. Entah mengapa..

Tuhan tolong diriku.

Dia atau dia? Disini atau disana?

Aku ingin segera berlabuh disebuah dermaga.

Rabu, 01 April 2009

RECHARGE


Bosan! Aku bosan bermain dengan pemikiran-pemikiran yang spekulatif. Argumentasi yang kusuarakan melalui hati dan perasaan ini, ternyata tak mampu meredam konflik antara batin dan pemikiran-pemikiran ini. Semuanya berjalan sendiri-sendiri  dalam kerasnya arogansi dan egoisitasnya. Menjadi tidak masuk akal..

Aku ingin kepastian hidup. Membangun optimisme yang kokoh dalam menjalankan ketentuan-ketentuan yang ada. Menyelaraskan rasa dan logika agar berjalan beriringan tanpa dominasi mayoritas. Menyeimbangkan hasrat duniawi dengan akhirati demi mewujudkan kedamaian sejati.

Aku lelah..ingin rasanya sejenak merebahkan tubuh ini. Mengistirahatkan otak yang telah kupaksa untuk terus berpikir. Meninabobokan hati dan perasaan yang telah ku ekploitasi selama ini.

Ketika terjaga nanti, kuharap menemukan  kekuatan kembali. Kekuatan untuk menaklukan perasaan jenuh yang sedang menjadi musuh besarku dan kekuatan untuk membunuh keraguan-keraguan yang melemahkan serta rasa malas yang mencemaskan. Yang kumau hanyalah sebuah kesuksesan.

Sebelum hilangku kemudian, kuingin bahagiaku. Bahagia yang masih tersimpan dalam memori otakku. Sebuah desain kehidupan yang akan membawaku dan orang-orang yang kucintai bersinergi dalam sebuah kebahagiaan hakiki.

Tuhan, berkatilah...Amin.

Arya Van Java

Senin, 30 Maret 2009

SEPOTONG ROTI YANG PENUH ARTI


Sore itu setelah kuhabiskan waktu selama kurang lebih dua jam untuk menonton film yang ternyata sama sekali gak penting, aku melangkahkan kaki menuju ke supermarket. Kebetulan stok kebutuhan sehari-hariku sudah mulai habis jadi sekalian aja aku belanja.

Setelah mengisi troly dengan bermacam-macam produk perawatan cowo, akupun langsung menuju kegerai makanan dan minuman. Sebungkus roti basah rasa kacang dan strowberry  aku ambil. Nampaknya sangat menggiurkan. Yups, sudah kebeli semua. Daripada berlama-lama takut over budget akupun langsung menuju kekasir.

Karena belanjaanku lumayan banyak dan malu kalo harus naik angkot ( hehe..bukannya apa-apa, malu aja udah kaya ibu rumah tangga tuh belanjaan ) akupun terpaksa harus mengeluarkan kocek lebih untuk ongkos naik taksi. Sambil nungguin taksi... dan berhubung perut udah lumayan kerasa lapar, aku makan aja roti sobek rasa kacang itu. Lumayan buat mengganjal perut nihh...

Wuekkk!!! Buh..! Baru sekali gigit aja udah aneh banget tuh rasanya. Sama sekali gak enak. Nyesel aku beli roti itu. Akhirnya aku taruh aja ditempat sampah. Wuzzz...Ngga ada sepuluh detik kemudian.. tiba-tiba seorang bocah mengambil roti itu dan langsung makan dengan lahapnya.

Dari cara makannya aku tau kalau bocah itu sangat lapar. Aku kemudian menghampirinya dan bertanya" Kamu sudah kenyang?". Ia hanya memandangku sebentar lalu menundukan kepala sambil menggelengkannya perlahan. " Kamu suka makan roti itu? " Tanyaku lagi. Ia kembali memandangku sebentar lalu menganggukan kepalanya perlahan. Akupun tak kuasa menahan genangan air mata ini.

*****

Pelajaran yang bisa kuambil dari kisah ini adalah bahwa seharusnya kita selalu bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan. Aku juga jadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, dan memperlakukan makanan. Roti yang kubuang begitu saja karena menurutku sama sekali tidak enak, ternyata bisa menjadi santapan yang lezat bagi orang lain yang tidak seberuntung aku.

Setidaknya aku juga belajar untuk bisa lebih  peduli. Saat aku kenyang, diluar banyak orang yang kelaparan. saat aku lapar, masih banyak yang jauh lebih lapar. Saat aku merasa hidupku pas-pasan, masih banyak yang jauh lebih pas-pasan. 

Melihat langit tentu adalah hal yang harus aku lakukan untuk memacu semangatku menuju kehidupan yang lebih baik. Tapi Insya Alloh, aku juga ngga akan pernah lupa dimana kaki ini berpijak. 

Arya Van Java

PELUKAN MIMPI


Aku memiliki segenap jiwa dan raganya dalam pelukan mimpi. Aku menjadi laki-laki terhebat karena memilikinya dalam pelukan mimpi.  Aku ingin tetap memeluknya dalam pelukan mimpi, aku ingin tetap menciumnya dalam pelukan mimpi, aku ingin tetap menyetubuhinya dalam pelukan mimpi. 

Ingin rasanya waktu yang kujalani hanya untuk memimpikannya. Merasakan kebahagiaan yang hanya terekam dalam angan-anganku. Menjadi pelakon utama dalam sebuah pertunjukan drama romantis yang hanya kumainkan bersamanya, tanpa sutradara, tanpa penonton. 

Semuanya akan berjalan sesuai apa yang aku dan dia ingini. Menikmati hidup ini hanya dengan mencintai dan dicintai sepenuh hati. 

Tuhan..rasanya aku enggan berlari dari mimpi-mimpi ini. Tolong jangan bangunkan aku jika terjaga dari mimpi hanya akan membuat aku kehilangan.

Arya Van Java

Minggu, 29 Maret 2009

MY HEART


Kali ini coba kutanyakan lagi pada hati yang tengah memilih. "Siapakah gerangan yang hendak kau pilih?" Namun lagi-lagi hati ini tak mampu menjawab. Entah sudah berapa jilid jika harus kurangkai dalam sebuah buku. Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut perasaan jiwa ini seolah-olah hanyalah hembusan angin yang berlalu begitu saja. Sampai kapan, hati ini masih saja terdiam..akankah tetap saja terdiam?

Bunga-bunga itu nampak berseri dan keindahannyapun terpancar dari dalam hati. Sebuah aura kasih yang mampu menggetarkan hati yang sedari saat itu berdiam diri. Lalu kutanyakan kembali pada hati ini. " Ia kah gerangan yang kau pilih?"Entah mengapa pertanyaanku membuat hati ini kembali tertutup rapat. "Lalu siapa?!" Tanyaku sedikit kesal.

Kemudian hati ini memberikan satu isyarat seraya memutar pandanganku kembali kebelakang. Seketika itu pula kulihat dirinya. " Apa? Dia? Kenapa harus dia? Tidakkah ada yang lain yang kau pilih?" Kembali tanyaku. Hati inipun tersenyum lagi. Tak kulihat lagi guratan kepedihan dihatinya. " Tapi itu tidak mungkin. Dia sudah menjai milik orang lain." Hati ini kembali tertunduk lesu. " Memang tidak mudah untuk melupakannya, tapi kenapa tidak kau coba dengan sekuat tenagamu? Mengapa kau terlalu lemah? Mengapa hanya dia yang kau cintai? Tidakkah kau bisa membuka matamu untuk melihat yang ada disekelilingmu? Dia, dia, dia,dia terus yang kau pikirkan. Kamu memang tidak pernah realistis! Kamu memang tidak pernah berpikir secara logis! Kamu egois...!" Umpatku pada hati ini yang sudah terlanjur kuat mencintainya. Hati yang sudah begitu sangat menguasai diri ini hingga tak lagi mampu mencapai logika.

Apa yang bisa kulakukan jika hati ini tetap dalam pendiriannya? Mencintai seorang seumur hidup? Inikah jalan yang harus kutempuh? Adilkah jika aku harus mencintai orang lain tanpa menyerahkan hati ini? 

Sekali lagi kucoba kembali bertanya pada hati ini. " Apakah kau benar-benar sudah tidak memiliki kekuatan untuk melupakannya? Apakah kau benar-benar tidak akan mau kuserahkan pada cinta yang lain?" Hati inipun tetap terdiam dan kulihat ada airmata yang meleleh dipipinya.

Arya Van Java