Sabtu, 28 Maret 2009

MUKA ITU BAGAIKAN BUAH BUSUK


Aku berbicara atas nama hati. Mencoba menumpahkan kekesalan-kekesalan yang selama ini kusimpan rapi. Kesabaran diri yang kupertahankan nampak sudah tergoyahkan. Aku ingin berlari..berteriak…mengekspresikan diriku dalam muak dan benci serta menghancur leburkan kelemahan-kelemahan yang tak lagi termaaafkan. Aku lelah menjadi diri yang tersakiti, aku bosan menjaga kebaikan – kebaikan yang terabaikan.

Aku terus berlari…tak peduli apa yang sejuta mata pertanyakan. Muka-muka itu bagaikan buah busuk yang ingin segera aku masukan dalam karung kemudian kubuang. Aku muak atas segala perlakuan yang membuatku kerdil. Ketidak berdayaanku selama ini menjadi butir-butir dendam yang kini telah menjadi seperti gunung api dan siap meledak kapanpun. Siap memporak porandakan semuanya.

Aku tak sesempurna untuk menjadi manusia yang selalu mengalah. Akupun punya benci dan amarah.Dan saat luka hati ini sudah terlalu parah, akupun tak mampu lagi menahan hati dan lisanku untuk menghujammu dengan sumpah serapah. Bahkan sanggup menuntun kedua tangan ini untuk membuatmu berdarah. 

Aku ingin melemparmu jauh kelautan. Membiarkan jasadmu menjadi santapan binatang laut. Biar episode demi episode yang kau mainkan dengan peran antagonis berakhir dengan sempurna. Sesempurna luka jiwa ini yang kau torehkan. 

Aku berbicara atas nama hati. Jika mulutmu masih sanggup mengatakan maaf, katakanlah. Sebelum tak ada sedikitpun ruang dihati ini, untuk memaafkanmu.

Arya Van Java


Tidak ada komentar:

Posting Komentar