Sabtu, 28 Maret 2009

JIWA YANG KESEPIAN


Kesepian ini lahir saat kusadari bahwa dia telah jauh pergi. Ketika air mata ini meleleh, aku berharap sesegera mungkin dapat terkikis habis kesedihan ini. Seperti air bah yang menyapu bersih semua benda disekitarnya dan kepedihankupun akan hilang diantara mereka. 

Kesepian ini selalu ada tiap sesal itu datang. Aku yang bersalah karena mengabaikan perasaanmu. Aku yang terlalu sibuk dengan waktu yang terbuang percuma. Aku yang kini terdiam dalam jiwa yang kosong.

Kesepian ini seperti cermin yang selalu menampakan wajahmu. Wajah yang telah begitu rapi menyembunyikan kesalmu selama ini. Wajah yang selalu tersenyum manis meski terkadang dengan sekuat jiwa harus menahan tangis.

Kesepian ini ialah luka yang telah kutorehkan padamu. Karma atas diamku yang menyakitimu. Akibat dari keraguanku yang membuatmu bertanya-tanya tanpa menemukan jawaban.

Kesepian ini telah mengajariku satu arti. Arti cinta yang sesungguhnya seperti matahari. Meski ketika senja beranjak harus bersembunyi tapi bukan berarti ia pergi. Ia akan datang lagi esok hari untuk menepati janji. Seperti aku yang akan menjemput hatimu kembali. 

Maukah kau membantuku mengusir kesepian ini?

Kembalilah..aku masih mencintaimu.

( Arya Van Java )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar