
Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya, aku tidak bisa tidur. Tiap kali kucoba memejamkan mata, saat itu pula kegelisahan itu muncul. Kegelisahan akan hidup yang tak terasa sudah hampir 29 tahun aku jalani. Tak terasa pula, sedikit demi sedikit Tuhan sudah mengurangi jatah usiaku. Kegelisahan itu semakin mendera, tiap kali kulihat yang ada disampingku hanya sebuah bantal. Bantal kapuk yang selalu setia menemaniku dan kerap mejadikan tempat kuberbagi bak seorang istri.
Seperti ada yang menusuk dada ini manakala mereka bertanya” Kapan kamu nikah?” Rasanya sesak sekali nafas ini kuhela. Bukan sekedar pertanyaan yang membutuhkan jawaban iya atau tidak, tapi itu adalah pertanyaan tersulit yang harus aku jawab.
“ Tunggu apa lagi, kamu kan sudah punya pekerjaan tetap” begitu kata mereka tanpa mereka tau bahwa bagiku bukan hanya soal pekerjaan atau materi yang kumiliki, tapi karena memang Tuhan belum memberikan aku petunjuk untuk dapat menemukan sebuah tulang rusuk yang terpisah dari ragaku.
Lamunan membawaku mengusik masa lalu. Aku baru menyadari bahwa ternyata telah begitu banyak cinta yang terlewatkan dengan sia-sia. Cinta yang tidak pernah aku sadari bahwa itu anugerah. Kini aku telah kehilangan semua itu. Sesuatu yang berharga yang sejatinya adalah satu penunjuk arah untuk dapat kuraih jalan bahagia. Bahagia dalam sebuah institusi keluarga bersamanya.
Perempuan itu bernama Ratri. Pohon kasih yang ia tanam dan tumbuh subur hingga berbuah cinta yang begitu ranumnya, tak dapat membuka mata hatiku yang masih diselimuti kebodohan. Bahkan aku datang laksana badai yang memporak porandakan tanaman itu. Pohon-pohon itu kini telah mati, dan tanah yang subur itu berubah seperti kota mati. Tak ada lagi kehidupan disana, hanyalah aku yang masih terus mencari.
Ratri teryata masih mampu berdiri dan perlahan menanam kembali benih tanaman yang hampir mati dilahan yang baru. Meski tak sesubur sebelumnya, tapi tanaman-tanaman itu terus bertahan hidup hingga bertunas lagi. Seorang laki-laki yang kini menjadi suaminya, sesungguhnya hanyalah raga yang kupinjam untuk menyembunyikan jiwa ini agar tetap bersamanya meski tak terpeluk.
“Apakah Tuhan hanya menciptakan satu Ratri didunia ini?” tanyaku dalam hati. Jika iya maka Ratri adalah sebuah mimpi yang tak kan pernah terwujud. Tapi jika tidak, dimanakah Tuhan sembunyikan Ratri yang lain? Kemanakah harus aku mencari?
Apatisku dalam sesalku ketika belum ada setitis harapan yang terbentang dihadapanku. Ketika yang kujumpai hanya sebuah jalan panjang yang melelahkan. Tapi Ratri yang lain tak jua muncul. Yang ada hanya Ratri yang melambaikan tangannya seraya mengucapkan selamat tinggal. Ratri sang permaisuri yang pergi bersama sang raja dengan kereta kencana. Dan disini aku tertinggal diantara Lumpur-lumpur yang mengering.
“ Kenapa kau tega lakukan itu,?” rasanya pertanyaan itu tidak pantas aku ucapkan padanya, karena dulu sejuta pertanyaan itu telah lelah ia tanyakan dan semauanya terabaikan olehku. Aku memang telah begitu tega mencampakan Ratri. Membuatnya terbang kelangit , tapi aku pula yang membuatnya terjatuh.
Ratri yang tersakiti, Ratri yang telah menghapus jejaknya bersamaku kini telah bahagia bersama pemuja cinta sejatinya. Mereka kini tak lagi berdua, ada seorang pangeran kecil diantara mereka. Buah hati dari sebuah ikatan suci.
Sedangkan aku, masih berdiri disudut kamar ini. Bersama bantal kapuk yang kuberi nama Ratri yang tak henti kusetubuhi dengan jiwaku yang merindunya.
Bantal kapuk itu atas nama Ratri.. Dalam hatinya aku tinggal. Meskipun yang kutempati hanyalah sebuah sudut yang teramat sempit.
Bandung,1 maret 2009
Arya Van Java
Tidak ada komentar:
Posting Komentar