
Aku adalah sebentuk hati yang terbiasa mengerti,
Sebentuk hati yang kadang tersakiti,
Aku adalah sebentuk hati yang terbiasa memahami,
Sebentuk hati yang akan membawa sang pemimpi,
Menemukan cinta sejati..
Puisi romantis berjudul sebentuk hati itu,aku temukan didalam buku Cerita cinta karya Dewa Amor yang aku beli tempo hari. Seketika itu juga aku langsung meloncat-loncat kegirangan tanpa memperdulikan reaksi orang-orang disekelilingku.
“ Ataya, kamu habis nongkrong dibawah pohon tua itu ya, makanya jadi kesurupan gitu?” tanya Rida ngeledek
“ Iya, dan jin itu nitip salam buat kamu. Uhh..Dasar, kebanyakan nonton film horror sih.” Kataku enek.
“ Yee biarin. Lagian ngapain sih kamu pakai jejingkrakan kaya gitu segala?”
“ Wahai Rida Binti Mustapa sahabatku belahan jiwaku, dengerin baik-baik ya..Sahabat kamu yang paling seksi, lucu, imut, cantik dan menarik ini, bakalan ketemu ama Dewa Amor……Liat nih, aku mendapatkan puisi sebentuk hati ini didalam buku Cerita Cintanya Dewa amor. Itu artinya aku punya kesempatan kejakarta buat dinner ama dia. “
“ Udah? Cuma gitu aja? Hhhh..LEBAY!! Inget , sesuatu yang berlebihan itu bisa unhappy ending ” kata Rida lagi sambil berlalu begitu saja.
Dasar Rida! Dia tuh emang anti banget buat baca-baca buku Dewa amor. Katanya sih dia udah kapok bermain cinta, dan nggak bakalan lagi kenal ama yang namanya cinta. Makanya dia suka sewot kalau aku sudah mulai ngomongin hal-hal yang berbau cinta, termasuk saat aku ngedapetin undian buat ketemu ama Dewa amor sang pujangga cinta pujaanku itu.
Dewa Amor adalah seorang penulis terkenal. Karya-karyanya selalu menjadi best seller dari mulai puisi, cerpen sampai novel yang semuanya beraliran romantis dan selalu menghayutkan perasaan siapapun yang membaca tulisannya itu. Rasanya seperti terbawa dalam imaginasi cinta Dewa Amor.
Tidak terkecuali aku. Sampai sekarang entah sudah berapa banyak karya Dewa Amor yang aku miliki. Mungkin sudah mencapai angka ratusan. Sepertinya kamarku sudah berubah menjadi perpustakaan saja.
Pagi itu aku harus berangkat kejakarta. Tempat pertama yang akan aku tuju adalah kantor penerbit buku Cerita Cinta sebagai penyelenggara sayembara puisi cinta sebentuk hati itu. Perjalanan yang aku tempuh hampir sepuluh jam memang terasa sangat melelahkan, tapi rasa lelah itu seketika lenyap tiap kali aku sadar akan bertemu dengan idolaku. Rasa penasaran yang menggelayut terus dibenakku, tak henti-hentinya membuat jantungku kian berdegup kencang. Aku benar-benar sangat beruntung. Betapa tidak, dari ribuan buku Cerita Cinta yang beredar, hanya ada satu kupon yang bertuliskan puisi sebentuk hati dan kupon itu ternyata milikku. Thanks God.
Waktu sudah menunjukan jam 7 malam. Setelah make over disalon, aku bergegas menuju sebuah café dimana aku akan bertemu dan menikmati makan malam bersama Dewa Amor. Aku benar-benar sudah tidak sabar menanti saat-saat pertemuanku dengan penulis idolaku itu. Dag Dig Dug..Dag Dig Dug..Rasanya jantungku kian berdetak begitu cepat.
“ Malam..” tiba-tiba seorang laki-laki memanggilku dari arah belakang. Lalu duduk dihadapanku dan menyapaku hangat.
“ Dewa amor” ia menyebut namanya seraya mengajak aku bersalaman.
“ A..a..Ataya.” jawabku gugup.
“ Kamu nampak gugup. Santai saja..Ataya.” kemudian ia mengajakku ngobrol sambil menikmati suasana malam dicafe yang bernuansa romantis itu.
Wajah langit dimalam itu nampak merona berkilauan dipenuhi cahaya bintang. Sesekali aku mencuri-curi pandang kearahnya. Gilaaa…sosok yang aku puja-puja selama ini ternyata sangat tampan dan karismatik. Aku seperti mimpi berada disampingnya. Berkali-kali aku cubit tanganku sendiri namun masih terasa sakit, berarti ini bukan mimpi.
Kau tahu..
Ada banyak bintang dilangit
Yang telah bosan mendengar ceritaku
Kepadanya aku berbagi
Tentang hati ini
Tentang perasaan ini
Padamu..
Kau tahu..
Apa kata mereka?
Mereka bilang,
Aku mencintai orang yang tepat
Dan berjanji kan menyampaikan
Sejuta salamku padamu
Smoga kau terima
Dan lalu kau tahu
Bahwa disalah satu sudut dunia ini
Ada aku yang mencintaimu
Maukah kau jadi belahan jiwaku?
“ Sepertinya aku belum pernah membaca puisi itu.” Kataku mengomentari puisi yang baru ia lafaskan.
“ Aku juga membuatnya satu menit yang lalu kok. Special buat kamu”
“ Hah? Buat aku?”
So sweet…dan akupun tak bisa berkata-kata lagi. Aku hanya bisa merasakan getaran-getaran dalam puisi itu yang terus menerus menggerogoti hati yang sudah terlanjur terbuai dengan kalimat-kalimat cintanya itu.
Tidak terasa malam semakin larut. Langit malam yang begitu cantik, juga sudah kelihatan lesu karena bintang-bintang satu persatu beranjak bersembunyi dalam peraduan mereka masing-masing. Malam yang aku lewatkan bersama Dewa Amorpun harus segera diakhiri.
“ Ataya, asal kamu tahu.. dulu aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa setelah aku menemukan wanita yang membaca puisi berjudul sebentuk hati itu, aku akan berhenti menulis cerita cinta diatas kertas. Tapi aku akan mencoba menulisnya melalui media lain, yaitu hati. Hati wanita itu.”
“ Maksud kamu? Kamu akan berhenti menjadi penulis?” tanyaku sedikit tidak mengerti.
Ia menganggukan kepala sambil tersenyum kemudian menatapku begitu dalam. Duhhhh….aku tidak kuat menatapnya.
*****
Perjalanan sang waktu terasa begitu cepat. Hingga tanpa aku sadari sudah hampir empat bulan janji suci perkawinan itu telah mengikat kami. Iya, aku telah resmi menjadi istri penulis pujaanku.
“ Wahh, seneng ya jadi kamu. Punya suami seorang penulis cerita-cerita cinta romantis. Pasti hari-hari kamu terasa begitu indah, soalnya selalu dihiasi dengan kata-kata cinta. Duhhh…bahagianya.”
Kata-kata yang dilontarkan salah satu sahabatku tadi, sebenarnya sangat menohok hati. Karena kenyataan yang aku rasakan justru sebaliknya. Dewa Amor yang dulu selalu bisa meluluh lantahkan hatiku dengan tulisan-tulisan cintanya itu, ternyata bukan Dewa Amor yang harus aku hadapi sekarang. Jika aku dapat meminta, aku hanya ingin hidup bersama Dewa amor dalam imajinasinya saja, bukan untuk kehidupan nyata. Karena sesungguhnya Dewa Amor tidak hidup dikehidupan nyata.
Untaian kata-kata manis yang kerap membius siapapun pembaca karya cintanya, sama sekali menjadi sesuatu yang asing bagiku. Bahkan aku sudah kehilangan sosok Dewa Amor.
“ Kamu itu istri Bagus Sadewa, bukan Dewa amor. Dewa amor hanya ada dalam imajinasi. Coba pikir secara realistis, mana ada sih orang yang sesempurna itu memperlakukan cinta. Karena hidup tidak hanya berkutat pada satu sisi. Cinta, cinta, cinta dan cintaaa…itu fiktif. Bahkan aku muak dengan yang namanya cinta!!!”
Itu bukan kali pertama aku mendengar ia berkata kasar. Ini sudah kesekian kalinya aku merasakan jari-jari tangan yang dulu selalu ia gunakan untuk menulis kata-kata cinta, berlabuh dipipiku dengan hantamannya yang begitu tajam dan memedihkan. Iya, Dewa Amor itu bukan itu Dewa cinta, tapi mungkin malikat pencabut nyawa.
Kuharap
Itu adalah air mata terakhirmu.
Aku bersumpah atas nama cinta,
Tidak akan membiarkan airmata itu mengalir
Biarpun setetes
Aku menemukan puisi itu diantara tumpukan-tumpukan piring yang tergeletak dimeja dapur. “Aneh…kenapa bisa ada puisi disini?” tanyaku dalam hati.
Entah mengapa begitu membaca puisi itu, seakan-akan aku merasakan kehadiran kembali sosok Dewa Amor yang kurindukan. Tapi mungkinkah ia sudah kembali menyatu dengan ruhnya sebagai Dewa Cinta? Apakah pertengkaran kami semalam telah membuat ia terjaga dari kesalahannya?
Aku melihat wajah suamiku begitu dingin. Tak ada sedikitpun kata yang terucap. Ia berlalu begitu saja. Keyakinanku bahwa dia telah kembali menjelma menjadi Dewa Amorpun diliputi keraguan. Lantas, siapa penulis puisi misterius itu sebenarnya???
Teka-teki yang harus aku pecahkan.
Pikiranku seketika tertuju pada seorang laki-laki yang selama ini menjadi bagian dari keluarga kami.
Namanya Kang Apit. Kondisi fisiknya yang beda dengan orang lain ( kerdil ), membuat ia menjadi sangat tertutup. Makanya ketika aku ingin mengorek keterangan tentang Dewa amor atau Bagus Sadewa yang sekarang menjadi suamiku juga kerap menemui hambatan. Itu disebabkan karena ia selalu mengurung diri dikamar dan tidak pernah mau berkomunikasi dengan siapapun.
TOK TOK TOK….!!
Aku beranikan diri untuk mengetuk pintu kamarnya.
TOK TOK TOk….!!
Hingga berkali-kali tak juga ada jawaban. Yang terdengar hanyalah suara musik klasik dari dalam kamar itu. Kali ini aku gagal menemuinya.
Satu persatu buku karya Dewa amor aku baca kembali. Sampai pada satu cerita cinta tentang sepasang rusa. Mereka saling mencintai dan berjanji untuk selalu bersama apapun yang terjadi. Hingga pada suatu hari, mereka harus berlari sekuat tenaga untuk menghindari serangan seekor singa lapar yang hendak memangsa mereka. Tapi ditengah pelariannya, tiba-tiba Sang rusa jantan terluka karena sebutir peluru yang bersarang didanya. Sang rusa jantanpun meminta kepada rusa betina untuk terus berlari dan jangan menghiraukan ia yang sedang terluka parah. Tapi sang rusa betina tak mau beranjak, hingga akhirnya seekor singa yang sedang kelaparan itu menerkamnya dari belakang dan memangsa keduanya hingga tinggal tulang yang tersisa.
“ Ataya…..!!!!!!” belum sempat aku menghapus air mata yang meleleh dipipiku karena cerita sepasang rusa yang baru aku baca, Bagus sudah berada didepanku.
“ Jadi ini pekerjaan kamu sebagai istri?! Cuma membaca, membaca,dan membaca terus….!!! Lama-lama aku jadi muak dengan buku-buku ini. Biar aku bakar saja!!”
“ Jangan..Aku mohon jangan Gus. Itu kan karya-karya kamu sendiri..”
“ Siapa bilang ini karya-karyaku?”
“ Apa kamu bilang tadi??”tanyaku heran.
“ A..e..a..e..Hahh..sudahlah, aku malas berantem denganmu!!”jawabnya gugup.
Bagus pergi begitu saja menyisakan sejuta pertanyaan besar dalam benakku.
Hari ini adalah hari ulang tahun Dewa amor atau Bagus Sadewa suamiku. Dulu sebelum aku masuk begitu dekat dalam kehidupannya, aku selalu melakukan ritual bangun jam 12 malam, menyalakan lilin, dan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Tapi kali ini aku akan mengucapkan selamat ulang tahun untuk seorang penulis pujaan sekaligus suamiku secara langsung. Sebuah kue kecil, sudah aku siapkan. Sebuah kata-kata manis yang aku adopsi dari salah satu buku kumpulan puisi karyanya, juga sudah aku hafalkan diluar kepala. Kejutan kecil itu mudah-mudahan dapat mengembalikannya.
Tapi hingga lilin diatas kue itu hampir habis meleleh, Bagus tak muncul-muncul juga. Karena terlalu lama menunggu, tak terasa akupun tertidur disofa.
Terima kasih atas cinta
Sejatinya ia nampak nyata
Tapi tak dapat kurengkuh
Kurasa dekat
Tapi tak dapat kutangkap
Apalagi kupeluk
Karena aku hanyalah seorang
Pemimpi sejati.
Ini kedua kalinya aku menemukan puisi misterius. Begitu selesai aku baca dan pikiranku tengah berputar-putar dalam teka-teki itu, tiba-tiba…
BRAKKK…!!!!
Aku mendengar seperti ada sesuatu yang terjatuh. Pikirku pasti Bagus yang pulang dalam kondisi mabuk. Akupun bergegas keluar sebelum ia berteriak-teriak memanggilku. Tapi ternyata diluar tidak ada siapa-siapa.
KRIIIIING…..
Bergegas aku angkat telpon.
“ Iya Halo..”
“ Maaf, bisa bicara dengan Dewa Amor? Tanya seorang penelpon diujung sana.
“ Dia lagi tidak ada dirumah” jawabku.
“ Anda siapa?” kembali penelpon itu bertanya.
“ Saya istrinya”jawabku singkat.
“ Saya dari penerbit harapan, tolong sampaikan saja pesan saya, kalau hari ini batas terakhir pengiriman naskah novelnya. Kami tunggu.Terima kasih..”
Selama aku hidup bersama Dewa Amor, tak pernah sekalipun aku melihat dia didepan computer atau sekedar menulis diatas kertas tentang puisi-puisi cinta, dan cerita-cerita cintanya. Atau memang dia tidak pernah melakukan itu dirumah? Aneh…
Sudah jam tujuh pagi, tapi Bagus belum juga pulang. Berkali-kali aku melihat keujung jalan, tapi ia tak muncul juga. Seorang lelaki yang memiliki kelainan fisik seperti kang Apit tiba-tiba menghampiriku.
“ Permisi, izinkan saya bertemu Apit. Sudah cukup selama ini kalian memeras dan memenjarakannnya. Saya akan mengajaknya kembali menyapa dunia luar. Dunia yang nyata yang memberi dia kehidupan sesungguhnya” Aku mengantarkannya menemui Kang Apit. Sepanjang langkahku terus mencar-cari arti dari apa yang ia katakana itu. Aku semakin tidak mengerti.
Berkali-kali kuketok pintu kamarnya tapi tak kunjung ada jawaban, akhirnya aku putuskan mendobrak pintu itu.
“ Kang Apit?!!!” serentak kami berteriak histeris melihat keadaan Kang Apit yang sudah memutih pucat tergeletak diatas lantai. Disekelilingnya nampak kertas-kertas berserakan. Kertas-kertas yang semuanya bertuliskan puisi-puisi dan cerita-cerita cinta.
Kini terjawab sudah teka-teki itu. Dewa Amor yang aku impikan selama ini ternyata adalah sosok pria kerdil yang bernama Kang Apit itu. Dan Bagus Sadewa itu bukanlah siapa-siapa. Dia hanya mengatas namakan dirinya Dewa Amor serta selalu memeras dan berusaha menyembunyikan Dewa Amor yang asli demi mendapatkan uang dan popularitas. Puisi sebentuk hati itu ternyata hanya sebuah puisi yang tidak berarti apa-apa selain hanya untuk mendongkrak penjualan buku cerita cinta itu demi kepentingan pribadi. Benar-benar licik!
Sekujur tubuhku lemas seketika, hela nafasku terasa begitu sesak. Air mataku mengalir melebihi air hujan. Kesedihan juga kepedihanku, menjadi bongkahan karang yang tak mungkin dapat terkikis. Aku hanya bisa menatap tubuh mungil yang sudah tidak bernyawa itu. Dewa Amor sang pujangga cinta itu tersenyum dalam keabadian.
Jika jari jemari tak mampu lagi menuntunku kini,
Menuliskan kata demi kata yang dinginkan oleh hati,
Maka Dewa Amorpun telah pergi,
Pergi bersama sejuta imajinasi,
Tentang cinta suci,
Yang tak pernah dapat ia miliki,
Hingga terlelap dalam kematian sejati.
Bandung, 29 Januari 2009
Arya Van Java
Tidak ada komentar:
Posting Komentar